Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Oktober 2014

Days 298 - Mini Trip to Sadang

Tanggal 25 Oktober 2014 yang bertepatan dengan hari sabtu aku berencana untuk melakukan joyride ke Sadang dengan naik bis. Berhubung tanggal 25 oktober merupakan hari sabtu, jadi aku memiliki alasan untuk pergi ke kampus walaupun sebenarnya selain ke kampus dilanjut pergi ke tempat entah kemana. Disaat perjalanan dari rumah, aku baru ingat kalau tanggal 25 Oktober 2014 bertepatan dengan tahun baru islam. Berarti hari itu adalah tanggal merah. Beruntung satu keluarga termasuk aku tidak tau kalau hari itu adalah tanggal merah. Ya yang penting melaksanakan aktivitas seperti biasa tidak peduli apakah itu tanggal merah atau bukan. Hahaha.

Perjalananku dimulai dari rumah sekitar jam 07:07 WIB menuju Terminal Baranangsiang dengan menggunakan bis Karya Jaya relasi Depok-Bogor. Tiba di Pool DAMRI jam 07:58 WIB. Dengan naik tangga penyebrangan yang lokasinya dekat dengan Shelter Transpakuan Baranangsiang, aku berjalan sedikit menuju Terminal Baranangsiang. Saat tiba di Terminal, aku mencari bis Kramat Djati dengan relasi Bogor-Purwakarta. Kebetulan saat tiba di terminal bis tersebut sudah ada di terminal, sehingga aku bergegas naik ke dalam bis tersebut dan mencari tempat duduk. Aku duduk dekat dengan pintu belakang, tepatnya berada di posisi kiri.

Pada saat bis tersebut sedang mencari penumpang untuk naik ke bis Kramat Djati, banyak pedagang sedang menjajakan daganagannya ke penumpang, baik berupa gorengan, minuman dan permen, koran, maupun buku-buku. Adapun pengamen yang ikut menghibur penumpang dikala menunggu waktu keberangkatana bis Kramat Djati, lebih tepatnya menunggu penuhnya penumpang yang dapat tempat duduk didalam bis. Aku membeli air minum untuk mengantisipasi kehausan didalam bis dan aku pun sempat membeli buku tentang pengobatan herbal dan pengobatan urut yang harganya cukup murah meriah. Harga air minum tersebut adalah Rp. 4000 dan harga buku tersebut adalah Rp. 15000. Aku berniat membeli buku pengobatan tersebut karena langka sekali menemukan pengobatan tradisional, belum lagi kurangnya pengetahuan tentang pengobatan tradisional dan juga tanpa pengobatan herbal atau kimiawi. Pada jam 08:06 WIB, pintu bis di tutup dan mulai diberangkatkan, penumpang sudah 95% mendapatkan tepat duduk, sisanya tempat duduknya kosong. Bis sedikit berjalan namun sepertinya bis yang aku naiki sedang menunggu aba-aba dari announcer untuk diberangkatkan. Walau begitu, ada beberapa penumpang yang sedang terburu-buru ingin naik bis Kramat Djati ini. Sekitar 99% kursi terisi. Pukul 08:17 WIB bis mulai diberangkatkan dari Terminal Baranangsiang.

Bis Kramat Djati yang aku naiki ini memiliki relasi rute yang tercantum pada papan depan bis yaitu relasi Bogor-Pasar Rebo-Kopo-Sadang-Purwakarta. Menurutku mungkin bis ini berakhir perjalanannya di Kopo karena Kopo dengan Purwakarta lebih jauh daerah Kopo dibandingkan Purwakarta. Namun karena dalam perjalananku hari ini hanya sampai di Sadang sehingga aku tidak mengikuti perjalanan akhir bis ini. Dari Terminal Baranangsiang, bis ini berjalan menuju pintu masuk tol Kota Bogor dan masuk ke tol Jagorawi. Setelah masuk ke tol Jagorawi, knek (entah bener atau salah dengan penulisan ini) langsung menagih setiap penumpang untuk membayar bis yang mereka naiki ini hingga akhir tujuan. Saat aku ditagih, aku memberikan knek tersebut Rp. 20000 dengan tujuan yaitu sadang. Namun kata knek itu aku kurang Rp. 6000 lagi. Ternyata dari Bogor hingga Sadang Rp. 26000. Katanya dari dulu sampai sekarang kalau naik bis Kramat Djati dari Bogor hingga Sadang harganya selalu tetap di Rp. 26000. Tidak naik dan juga tidak turun walaupun ada kenaikan harga BBM sekalipun. Sepertinya bis Kramat Djati ini mempunyai sesuatu yang spesial dengan harga. Harga naik bis Kramat Djati selalu setia dan berpatok pada harga itu dari waktu kewaktu. Tak heran banyak penumpang yang lebih menyukai naik bis Kramat Djati dibandingkan bis yang lainnya jika dari Bogor ke Purwakarta atau Sadang.

Perjalanan bis ini mulai berhenti di tempat pemberhentian pertama setelah masuk di pintu keluar tol Pasar Rebo, yaitu Pasar Rebo, Jakarta. Bis ini tiba di Pasar Rebo pukul 08:50 WIB. Saat tiba di Pasar Rebo, bis ini menurunkan banyak penumpang di tengah jalan. Walau sedikit berbahaya namun beruntung saat dibelakangnya tidak banyak mobil yang lewat. Pos pemberhentian Pasar Rebo letaknya cukup dekat dengan Terminal Kampung Rambutan serta dekat sekali dengan Halte Transjakarta Fly Over Jalan Raya Bogor.  Bis Kramat Djati ini berjalan lambat dan memutar ke arah tol sambil menunggu penumpang yang ingin naik bis itu. Hanya 1-3 orang yang naik bis itu dari Pasar Rebo. Pada pukul 08:55 WIB, bis kembali diberangkatkan.

Sebelum masuk ke jalan tol, bis ini sempat berbelok arah ke daerah Bambu Apus, Hankam, Cipayung untuk berhenti dan menaikkan penumpang kembali pada pukul 09:01 WIB. Sekitar pukul 09:02 WIB bis kembali diberangkatkan dan masuk ke jalan tol lingkar luar.

Dalam perjalanan selanjutnya, bis ini berjalan menuju tol Jakarta-Cikampek. Sempat mengalami kemacetan disaat jalan masuk ke tol Jakarta-Cikampek pada pukul 09:11 WIB. Kemacetan saat itu tidak terlalu parah. Bis ini terlepas dari kemacetan pada pukul 09:20 WIB. Selama perjalanan di tol Jakarta-Cikampek, arus kendaraan dari arah Jakarta sangat ramai namun lancar karena kecepatan setiap masing-masing kendaraan berada pada sekitaran batas minimum. Namun kemacetan kembali terjadi di beberapa ruas keluar tertentu. Berikut ini tempat ruas keluar terjadinya kemcaetan di tol Jakarta-Cikampek serta awal terjadinya kemacetan dan keluar dari kemacetan selama perjalanan bis Kramat Djati yang aku naiki ini:

Tambun: 09:43-09:46
Cibitung: 09:50-09:54
Cikarang: 10:00-10:06

Selama perjalanan di tol Jakarta-Cikampek, penumpang banyak yang tertidur pulas. Entah tertidur karena kecapean, mengantuk, atau mual. Namun ada beberapa penumpang yang senang dan menikmati perjalanan bis Kramat Djati ini. Yaitu keluarga yang membawa anak-anak mereka. Aku sempat tertidur pulas saat lepas dari kemacetan di ruas keluar Cikarang. Namun aku terbangun lagi sekitar pukul 10:43 WIB dan saat itu berada di ruas keluar Kawasan Industri Karawang. Bis Kramat Djati yang aku naiki ini tidak masuk ke tol Cipularang-Purbaleunyi melainkan tetap lurus menuju Cikampek-Cirebon.

Setelah perjalanan yang panjang di tol Jakarta-Cikampek, bis ini melewati underpass rel kereta api jalan yang sedikit sempit di jalan tol dan masuk di pintu keluar tol Cikampek. Dan tiba di pos pemberhentian ketiga yaitu di pertigaan jalan Cikopo-Cikampek (pos pemberhentian kedua di Bambu Apus, Hankam, Cipayung) pada pukul 10:52 WIB. Banyak penumpang yang turun di pos ini. Yang aku pikirkan saat masuk ke pos pemberhentian Cikopo-Cikampek ini, sebenarnya tujuan akhir dari bis Kramati Djati di Bogor ini berakhir di mana? Apakah di Kopo atau di Purwakartanya? Ya karena ada daerah namanya Kopo dan ada juga yang namanya Cikopo, namun di papan rute relasi bis tersebut tercantum Bogor-Pasar Rebo-Kopo-Sadang-Purwakarta. Mungkin aku akan tau ketika aku naik bis ini untuk yang kedua kalinya. Di pos pemberhentian Cikopo-Cikampek tidak ada penumpang yang naik, masih tersisa sekitar 30% penumpang lagi. Pada pukul 10:52 WIB bisa kembali dijalankan dan berjalan berbelok arah ke kanan menuju pos pemberhentian selanjutnya.

Pada perjalanan selanjutnya, bis Kramat Djati mulai berhenti untuk menurunkan penumpang bagi yang ingin turun di tempat itu. Sedikit demi sedikit penumpang di dalam bis mulai berkurang. Perjalanan bis ini sempat melewati stasiun Cibungur pada pukul 10:57 WIB. Namun pada awal perjalanan sebelumnya, aku sempat melihat beberapa daerah yang sedang dilakukan pembangunan baru, entah berbentuk jalan tol atau rel kereta api. Karena dengar-dengar saat ini sedang dibuat jalan tol baru ke Cirebon dan juga rel kereta api dari Cibungur hingga Tanjungrasa. Bis ini sempat melakukan pengisian bensin di daerah Bungursari dari pukul 11:03 hingga 11:10, itupun sudah termasuk antri di SPBUnya. Perjalanan mulai dilanjutkan dan tak lama kemudian perjalanan sudah tiba di perempatan Sadang, tepatnya di Sadang Terminal Square (STS) pada pukul 11:17 WIB. Aku dan penumpang yang lain turun dan di bis masih tersisa beberapa penumpang. Mungkin penumpang tersebut merupakan penumpang yang menuju Purwakarta karena bis tersebut tetap berjalan lurus, tidak berbelok ke arah pintu masuk tol Purbaleunyi-Cipularang.

Turun dari bis aku sempat mengademkan diri di Sadang Terminal Square (STS) karena hawa setelah keluar di bis sangat panas. Aku masuk ke dalam Sadang Terminal Square namun aku kebelet ingin ke toilet untuk buang air kecil, sehingga aku sempat memutar mencari kamar mandi di sekitaran Sadang Terminal Square. Saat mencari toilet, aku sempat melihat jasa shuttle bis bernama Arnes Shuttle di sekitar sisi samping STS (pintu Cikampek), banyak orang yang ingin naik bis tersebut namun aku kurang tau mereka ingin naik bis relasi mana saja karena jasa shuttle bis Arnes Shuttle ini memiliki 2 relasi. Yaitu relasi Purwakarta-Jakarta yang datangnya setiap 1 jam sekali dari jam 05:00-21:00 dan relasi Purwakarta-Bandung yang datang setiap 30 menit dari jam 05:00-22:00. Untuk biaya kurang diketahui dikarenakan aku belum sempat nanya ke dalam. Mungkin masing-masing relasi memiliki harga tertentu. Setelah melihat Arnes Shuttle dilanjut pencarian toilet untuk buang air kecil, tak jauh dari Arnes Shuttle, aku menemukan toilet dengan biaya penggunaan Rp. 2000 per orang. Setelah itu aku menuju lantai atas (lupa lantai berapa namun terdapat mainan Time Zone dan Food Court). Sebelum aku main di Time Zone (ya seperti biasa, kalau bukan DDR yaitu PIU). Aku sempat makan di Food Court. Aku memesan Ayam Pecel Penyet yang harganya mungkin antara standard atau diatas rata-rata, yaitu Rp. 25000. Walau begitu rasa ayam tersebut rasanya enak dan bikin ketagihan. Rasanya aku ingin meminta lagi Ayam Pecel Penyet itu, cuma berhubung keterbatasan uang jadinya aku cukupkan makananku disini. Kemudian aku membayar pesananku di kasir yang letaknya berada di tengah pinggiran Food Court. Selanjutnya aku membeli minuman Ades (minuman botol yang kemassannya warna hijau) seharga Rp. 5000 dekat tempat karaokean. Kalau di warung biasanya minuman ades ini harganya Rp. 2000 dan di market tertentu harganya Rp. 2500 berhubung kemasannya yang ekonomis dan mudah rusak.

Aku menuju ke Time Zone untuk bermain DDR karena di tempat itu Dance Arcade yang tersedia adalah DDR 8th Mix. Sistem creditnya menggunakan koin namun untuk mendapatkan koin terlebih dahulu harus menggesek kredit di tempat mesin pengambilan koin. Kredit ini berupa saldo yang harus diisi terlebih dahulu dipengisian kredit dan penukaran tiket dengan hadiah. Terdapat 3 mesin pengambilan koin, yaitu 1 gesek 1 koin, 1 gesek 4 koin dan 1 gesek 6 koin. 1 koin sendiri sebesar Rp. 1500. Jadi kalau mau 4 koin harus mengeluarkan Rp. 6000 dan 6 koin harus mengeluarkan Rp. 9000. Aku hanya menggesek di 1 gesek 4 koin untuk bermain DDR. Selanjutnya, aku bermain DDR pada Double Mode. Mode yang jarang dimainkan orang-orang di dance arcade DDR. Kedua pad masih nyaman untuk dimainkan sehingga mudah pula untuk mendapatkan rank A walau sulit untuk mendapatkan Full Combo apalagi Full Perfect Combo. Bahkan entah kenapa aku sedikit lebih mudah mendapatkan rank A di lagu yang sulit di DDR 8th Mix di STS ini. Biasanya di tempat lain sedikit sulit. Entah faktor pad yang enak atau sedang bersemangat main. Karena ketagihan akhirnya aku menggesek 4 koin kembali untuk bermain kembali double mode kembali. Setelah selesai, gak kerasa badanku mengucur banyak keringat. Akhirnya aku berisitirahat sejenak mencari tempat duduk dan mulai mencari pendingin untuk mengeringkan badanku dan bajuku yang penuh dengan basahan keringat. Setelah itu aku keluar dari STS melewati pintu Purwakarta.

Pukul 12:58 saat di luar STS aku melihat ada bis Kramat Djati yang warnanya sedikit berbeda sedang berhenti di perempatan jalan menuju pintu masuk tol Cipularang-Purbaleunyi. Aku menyebrangi jalan perempatan itu dan bertanya kepada knek bis itu, ternyata bis Kramat Djati yang ngetem disitu bukan menuju Bogor. Info yang aku dapat dari knek di tempat itu bahwa kedatangan bis Kramat Djati yang relasinya ke Bogor dari Purwakarta cukup lama, bahkan datang sekitar 30-120 menit. Hal ini dikarenakan masih minimnya armada bis untuk rute relasi Bogor-Purwakarta, Jika ingin yang banyak ke arah Bogor sebenarnya bisa naik bis Warga Baru relasi Purwakarta-Kampung Rambutan namun dilanjut naik Miniarta ke Bogor. Dan entah bener atau tidak, katanya bis terakhir Kramat Djati dari Purwakarta itu jam 16:00. Namun ada juga yang bilang kalau bis terakhir dari Purwakarta sekitar jam 19:00. Mungkin aku butuh banyak bertanya sama orang yang naik bis Kramat Djati atau pengelola bis Kramat Djati untuk relasi Bogor-Purwakarta nya langsung di lokasi. Dan yang kedua kalinya aku berencana ke Purwakarta dengan naik bis hingga relasi terakhir bis Kramat Djati ini. Katanya bis Kramat Djati relasi dari Purwakarta ke Bogor memiliki rute yang sama pula sehingga tidak melewati pintu masuk tol Sadang. Melainkan menuju Cikopo-Cikampek untuk ke pintu masuk tol Cikampek.

Karena menunggu bisnya cukup lama, akhirnya aku memutuskan diri untuk mencoba naik lokalan Purwakarta yang terletak tak jauh dari Sadang. Nama stasiunnya itu adalah Stasiun Sadang. Hanya membutuhkan waktu sekitar 5 hingga 7 menit dengan jalan kaki sudah tiba di stasiun Sadang. Dari STS hanya berjalan mengikuti jalan. Ketika melihat ada gapura dengan jalan raya menuju ke atas, kita hanya berbelok ke arah kanan dan menuruni jalan hingga bertemu dengan rel. Setelah itu berbelok ke arah kanan, jalan sedikit melewati jalan yang penuh dengan debu, tanah, dan batu dan akhirnya tiba di stasiun kecil Sadang.

Stasiun Sadang merupakan stasiun kecil yang aktif dan tidak terawat namun memiliki lokasi yang strategis karena dekat dengan perkampungan dan pedesaan daerah Sadang, akses jalan menuju Sadang Terminal Square (STS) serta kampus STT (Sekolah Tinggi Teknik) Wastukancana. Karena tempatnya terpencil berada dibawah flyover jalan raya Cikampek-Purwakarta dan tidak ada tanda jalan menuju stasiun sehingga stasiun ini tidak banyak dikenal orang-orang sekitar kecuali penduduk sekitar situ dan orang-orang yang mengetahuinya. Namun walaupun seperti itu, banyak penumpang yang naik kereta lokalan dari stasiun Sadang menuju Cikampek-Karawang-Jakarta dan jarang yang naik kereta lokalan ke stasiun Purwakarta namun banyak pula warga yang turun di stasiun Sadang dari arah Cikampek-Karawang-Jakarta.

Dari segi fisik stasiun Sadang, bentuk stasiun Sadang mirip seperti bentuk stasiun pada zaman dahulu sehingga bangunan stasiun Sadang ini memiliki nilai historis yang cukup tinggi namun sangat disayangkan kondisi stasiun Sadang ini cukup mengenaskan. Hal ini dikarenakan banyaknya coretan yang parah setiap sisi bangunan (khususnya pintu ruang loket). Toilet stasiun Sadang yang rusak dan tidak ada perbaikan sama sekali. Dan ruang yang tersedia di stasiun itu hanyalah terdapat 4 ruang yaitu 2 ruang tunggu, ruang loket, serta ruang PPKA. Ruang PPKA yang kosong, tak terurus, lantai yang berlubang, tidak ada keramik sama sekali, penuh tumbuhan dan juga beberapa ruas sisi ruangan tertutup dengan potongan rel. Ruang tunggu yang satu tidak memiliki tempat duduk, hanya berupa lantai biasa dan ruang tunggu satunya terdapat 3 bangku tempat duduk serta tempat loket dan tempelan kertas jadwal Lokalan Purwakarta, baik dari arah Jakarta (bukan ke Purwakarta) maupun yang menuju Jakarta serta tulisan pembayaran tiket harus dengan uang yang pas. Entah kenapa orang yang melayani tiket itu sepertinya tidak menerima orang yang membeli tiket dengan uang yang lebih, harus membayar dengan uang pas. Ruang dengan pengelola stasiun yang aktif hanyalah berada di ruang loket. Saat aku lihat sekilas, ruang loket ini hanya terdiri dari printer tiket, komputer dengan CPU, meja dan satu orang yang mengelola tiket. Entah PPKA, kepala stasiun atau pengelola stasiun Sadang yang lain pada kemana.Yang masih aku tanyakan di stasiun Sadang ini apakah yang mengelola stasiun Sadang ini hanya satu orang atau ada yang lainnya? Karena saat aku lihat juga stasiun ini tidak terdapat megaphone (kalau kata orang-orang nyebutnya TOA [nama merek megaphone]) untuk mengeluarkan suara pengumuman ketika terdapat kereta api yang tiba  dan berangkat, melintas langsung, dan yang lainnya. Mirisnya lagi, stasiun Sadang ini minim sekali akan penerangan. Sehingga dapat dibayangkan betapa gelapnya stasiun ini jika di malam hari. Namun tenang saja, stasiun Sadang ini terdapat perumahan warga yang lokasinya sangat dekat sekali. Sehingga ada sedikit penerangan walau tidak berada di stasiun namun perjalanan ke jalan rayanya itu memang cukup membuat adrenalin naik. Peron stasiun yang kecil dan pendek cukup menyulitkan penumpang untuk naik ke dalam kereta api. Dan mirisnya lagi, peron yang seperti itu hanya di jalur 1, di jalur 2 tidak memiliki peron sama sekali sehingga apabila kereta lokal ini tiba (dari arah Cikampek-Karawang-Jakarta) maka penumpang yang turun terpaksa harus berhati-hati selain tidak memiliki peron yang memadai dan juga dipingginya pun terdapat rel yang cukup berbahaya apabila tiba-tiba terdapat kereta yang melintas di jalur 1 (bagi yang menyebrang ke jalur 1).

Pemandangan di stasiun Sadang tidak kalah menarik karena di depan pintu masuk stasiun terdapat lapangan kecil depannya merupakan rumah warga. Terdapat rel yang terpendam di lapangan kecil itu, entah peninggalan sejarah kalau ada rel disitu entah juga rel bekas yang terpendam. Selain itu juga didepan peron stasiun Sadang terdapat hamparan sawah yang indah sehingga sangat bagus untuk pengambilan foto pemandangan di tempat itu. Di samping kanan (utara) stasiun Sadang pun juga persawahan dan dari situ terlihat jelas letak kampus STT Wastukancana.

Aku membeli tiket KA Lokal Purwakarta bernomor KA 367 dari Sadang ke Purwakarta dengan harga Rp. 3000. Sambil menunggu, aku menjelajah sekitaran stasiun Sadang. Walau adem nan panas tapi sangat memuaskan dikarenakan ada bagian pemandangan di stasiun Sadang yang cukup baik untuk dilihat dan dijadikan kenangan.

Pada pukul 13:21 WIB, KA Lokal Purwakarta tiba di stasiun Sadang. Penumpang mulai berbondong-bondong naik ke dalam kereta api sebelum kereta api itu berangkat. Setelah di peron sepi dan tidak ada penumpang yang naik kereta api akhirnya kereta api itu dijalankan kembali tanpa diberikan semboyan dari stasiun kecuali semboyan 35 dari kereta api itu sendiri. Pada pukul 13:22 WIB KA Lokal Purwakarta mulai dijalankan. Di dalam kereta api yang aku naiki ini, banyaknya penumpang cukup ramai sehingga banyak tempat duduk yang sudah terisi walau ada beberapa yang belum terisi sama sekali. Khususnya untuk gerbong belakangnya. Sayangnya ada gerbong yang ACnya nyala dan ada juga yang ACnya mati. Adapun juga yang stop kontaknya nyala dan juga ada stop kontak yang mati. Ironisnya, aku kebagian gerbong yang stop kontaknya mati ditambah ACnya pun mati. Hanya bisa merasakan hawa panas dan keringat mulai berkucuran seiring lamanya perjalanan.

Berikut ini Trip Report yang aku catat selama perjalanan dengan KA 367 ini dari stasiun Sadang hingga stasiun Jakarta.



Selama perjalanan di dalam KA 367, banyak segerombolan komunitas tipe-X naik di gerbong yang aku naiki dari stasiun Cikampek. Kemudian beberapa stasiun berikutnya seperti stasiun Klari, Karawang, Cikarang, Tambun, dan Bekasi mulai merambat banyak komunitas tipe-X itu sehingga membuat satu gerbong rame dengan komunitas itu. Sayangnya, selama perjalanan ini banyak yang ngeluh karena AC yang mati dan stop kontak yang mati sehingga tidak bisa ngecas dan badan terasa panas ditambah keringat mulai bercucuran. Namun ada juga yang ngeluh karena tidak ada pedagang yang masuk sehingga mereka tidak bisa jajan untuk menikmati setunggak air putih yang dingin. Walau menurutku memang cukup bagus karena sudah tidak ada lagi pedagang yang masuk di dalam kereta lokal Cikampek-Purwakarta terutama pengemis yang maksa dan pengamen yang berisik sehingga perjalanan kereta api lokal sudah masuk dalam kenyamanan yang baik tapi mungkin banyak penumpang kereta api lokal yang belum terbiasa akan kondisi seperti ini. Semoga keadaan tanpa pedagang, pengamen, dan pengemis didalam kereta bisa dipertahankan terus. Ketika melewati stasiun Cipinang, bateraiku habis sehingga Trip Report setelah stasiun Cipinang mulai berantakan. Ketika sampai di stasiun Kemayoran aku berjalan menuju gerbong paling depan. Tiba-tiba aku kaget ketika melihat gerbong bordes dipakai untuk penumpang yang tidak bertanggung jawab. Sekumpulan anak remaja sedang asyik bermain di dalam bordes. Parahnya lagi, bordes tersebut dipakai anak-anak remaja tersebut untuk bermain bola. Beruntung bordes tidak memiliki kaca. Kalau ada kaca bisa berbahaya namun tetap saja berbahaya karena merusak fasilitas kereta api. Sepertinya petugas kereta, dari satpam dan kondektur pun tidak dapat berkutik karena jumlah mereka yang banyak dan sulit diatur tapi mereka semua memiliki tiket. Sehingga tetap dibiarkan seperti itu. Perjalanan sedikit tersendat cukup lama ketika ingin masuk ke stasiun Jakarta Kota. Namun ada beberapa penumpang yang kelihatannya panik dan cemas karena takut tertinggal kereta. Saat ditanya, penumpang tersebut ingin naik KA Tegal Arum untuk ke Tegal. Kondektur, satpam, dan orang sekitar tidak bisa berbuat apa-apa. Orang-orang tersebut ada yang naik dari Cikampek, Karawang, dan juga dari Cikarang. Karena waktu yang cukup mepet dan waktu sudah menunjukkan pukul 16:20. Sehingga orang tersebut hanya bisa berdoa agar bisa terkejar KA Tegal Arum itu. Tapi mirisnya lagi, tiket yang dia beli dari pihak ketiga belum ditukar sama sekali. Kata kondektur dan satpam, tiket yang belum ditukar tersebut masih bisa dipake selama perjalanan kereta api itu kalau tidak sempat untuk ditukar. Ketika tiba di stasiun Jakarta Kota pukul 16:28 WIB, orang-orang mulai berteriak kepada penumpang yang ingin naik KA Tegal Arum dari KA Lokal Purwakarta untuk segera berlarian. KA Tegal Arum mulai berangkat dan penumpang tersebut mulai mengejar KA Tegal Arum itu namun sayangnya tidak terkejar. Tiket yang mereka beli akhir hangus dan hanya penyesalan yang bisa mereka dapat dari kejadian yang tidak dapat diduga dari naik KA 367 itu. Akhirnya penumpang tersebut kecewa dan entah apa yang mereka lakukan selanjutnya, entah pulang kembali dengan lokalan Cikampek, atau naik KA yang relasi bisa sampai ke stasiun Tegal.

Dari stasiun Jakarta Kota, aku mengisi saldo Multitrip aku terlebih dahulu, dilanjut belanja minuman dan mengisi baterai HPku terlebih dahulu sebelum berangkat untuk pulang. Aku pulang dengan naik KRL KA 1194 turun di Bojonggede dan pulang dengan menggunakan Ojek.

Kamis, 12 Juni 2014

Days 163 - New Laptop Downgrade

Hari kamis tanggal 12 Juni 2014 merupakan hari dimana HPku mengalami bootloop. Berawal pada saat aku dan teman-temanku nongkrong bersama di kampus dengan penuh hawa kebosanan. Karena harus menunggu sampai jam 1 siang untuk praktikum Analisis Numerik sehingga kita hanya berbicara berdasarkan topik yang diinginkan. Sayangnya aku tidak bisa ikut berdiskusi pembahasannya itu dikarenakan aku belum bisa menyampaikan sesuai dengan pembahasan mereka. Sehingga aku hanya bisa menjadi pendengar yang  baik bagi mereka. Ketika  mendekati jam 12, Sugi mendapatkan kabar dari assisten dosen  Praktikum Analisis Numerik bahwa hari ini praktikum tidak jadi dilakukan dikarenakan tidak bisa hadir dan ingin diganti ke hari sabtu siang jam 1. Namun karena kelasan kita memiliki acara kunjungan rumah bersama maka praktikum analisis numerik tidak jadi dilaksanakan di minggu ini.

Tiba-tiba kesenangan kabar itu merubah HPku menjadi bootloop karena kondisinya panas secara tiba-tiba. Entah kenapa. Akhirnya SIM Card ku dari HP android langsung aku pindahkan ke HP Cross. Beruntung aku memiliki 2 HP sehingga bisa terantisipasi apabila ada pesan masuk ke nomorku ini. Karena bootloop kali ini sudah yang ketiga kalinya dan belum ada sebulan (Mungkin 13 hari tepatnya). Mungkin sudah saatnya HP Xperia U punyaku ini yang sudah berumur 2 tahun lebih digantikan dengan yang baru. Aku berniat untuk membeli HP baru di hari ini. Aku segera menghubungi kakakku tentang keadaanku ini dan kakakku bisa mengantarkan aku untuk membeli HP baru dengan merek yang sama tapi tipe yang berbeda. Berharapnya aku bisa membeli HP dengan RAM dan koneksi internet yang tinggi dan lebih baik dari yang sebelumnya. Itu sudah cukup dengan keseharianku dengan menggunakan HP Android ini.

Aku dan kakakku janjian di Plaza Jambu Dua. Kakak berada di Ekalokasari Bogor untuk membeli sushi buat adikku terlebih dahulu kemudian dilanjut ke Plaza Jambu. Aku setelah mengerjakan tugas praktikum optimasi langsung berjalan menuju Plaza Jambu Dua. Karena berhubung tempatnya masih di sekitaran kota Bogor dan jalan utama Jalan Raya Bogor maka aku meniatkan diri untuk naik Transpakuan dengan harga 4000 rupiah, baik jarak dekat maupun jarak jauh. Hanya saja perjalananku di hari itu memakan waktu cukup lama dikarenakan macet di sekitaran perempatan lampu merah jambu dua. Aku turun di halte jambu dua dan menuju ke CFC Plaza Jambu Dua sambil menunggu kakakku tiba di tempat.

Sekitar 15 menit menunggu, kakakku tiba dan menghampiriku. Berlanjut ke tujuanku hari itu membeli HP terbaru, kakakku menyodorkan aku kertas-kertas berupa daftar harga laptop yang dijual di beberapa kios. Saat aku baca, awalnya aku mempunyai keinginan untuk membeli laptopku kembali. Namun karena ada tawaran yang cukup menarik dan harganya pun terjangkau, yaitu laptop dengan spesifikasi yang sama dengan merek yang sama. Saat itu aku berubah pikiran untuk membeli laptop baru saat itu juga. Tapi disisi yang lain, mungkin aku pun merasa bingung apakah aku harus membeli HP baru atau tidak. Ya karena HPku bootloop lagi belum ada 15 hari dan mulai keseringan bootloop, mungkin bisa aku pertimbangkan nantinya.

Aku memulai mengambil uangku di ATM mandiri dengan pecahan uang Rp. 100.000. Walau pengambilan uang ATM ini sedikit ribet dikarenakan adanya ibu-ibu yang tidak sabaran ingin mengambil uang juga di ATM itu. Setelah itu, aku dan kakakku mulai ke toko laptop yang ditawarkan oleh kakakku itu. Setelah sesampainya disana. Aku dan kakakku membeli laptop baru untukku. Walau spesifikasinya tidak sama dengan laptopku yang lama namun hampir sama dengan spesifikasi yang baru. Harga aslinya pun sebenarnya sama, yaitu Rp. 5.100.000. Dikarenakan adanya diskon yang menarik untuk dibeli sehingga harganya pun menjadi Rp. 4.450.000. Aku deal membeli laptopku ini. Laptop yang baru ini bernama Procom Lenovo B475. Menunggu sekitar satu jam karena sedang tahap install Operation. Setelah terinstall dengan beberapa aplikasi dan lainnya, aku dan kakakku melihat spesifikasi lebih lanjut tentang laptopnya ini. Ternyata sedikit kurang baik dari punyaku yang lama. Ya seenggaknya walau mengalami downgrade paling tidak bisa menggunakan laptop yang baru untuk internet, menyelesaikan tugas dan juga lainnya.

Ya mungkin ini cerita yang bisa aku ceritakan tentang hari ini. Semoga dengan adanya laptop yang baru ini bisa terawat dan menjaga lebih baik lagi dibandingkan sebelumnya. Dan tidak ada lagi yang namanya kehilangan seperti beberapa bulan yang lalu. Cukup sekali dan terakhir kali saja.

Jumat, 02 Mei 2014

Days 122 - New Purple Batik

Hari Jumat, 2 Mei 2014. Sesuai dengan judulnya, aku mendapatkan batik baru berwarna ungu dari salah satu kakak seniorku. Teteh Nuri. Ya.. sebenarnya aku mendapatkan batik berwarna ungu ini karena aku membeli darinya. Aku sedang mencari batik berwarna ungu cuma sayangnya cukup langka apalagi modelnya juga cukup bagus dan langka. Sebelumnya aku pernah tertarik melihat batik ungu yang dibuat dari Yogyakarta. Namun sayangnya karena harganya yang cukup mahal berserta adanya ongkos kirim sehingga aku harus menunggu perantara yang dekat agar aku bisa membeli batik dengan mudah.

Kebetulan saat itu aku sedang nanggepin status BBMnya Teteh Nuri. Setelah direspon balik olehnya, dia sempat menawarkan batik kepadaku. Berbagai macam batik berserta warna dan jenisnya. Aku tertarik dengan tawaran Teteh Nuri. Aku pun sempat menanyakan tentang batik yang ingin aku cari, yaitu batik berwarna ungu atau biru dengan motif yang ramai dan berlengan panjang. Teteh Nuri sampai memberikan aku sample dan contoh batik yang ada disitu. Walau sempat membuatku bingung akan motif yang cocok karena motif untuk warna ungu terbatas, bahkan yang bagus hanya terletak pada lengan yang pendek. Ya aku sempat kepikiran akan ketersediaan batik dirumahku bahwa aku tidak memiliki batik dengan lengan pendek. Adapun batik lengan pendek namun terkensan seperti anak sekolahan. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli batik lengan pendek dengan warna ungu. Dengan harga Rp. 150.000 dan deal dengan Teteh Nuri. Akhirnya aku dapat membeli batik itu secara ketemuan. Harga memang mahal karena bahannya terbuat dari katun, perwarnaan yang kompleks, hingga ongkos kirim bagi dirinya (plus bonus darinya tentunya).

Awalnya aku janjian dengannya sekitar hari Selasa-Rabu namun belum ada kabar sama sekali darinya. Di hari jumat, 2 Mei 2014. Aku mendapatkan pesan Whatsapp dari Teteh Nuri mengenai keberadaan aku ada di kampus atau enggak. Dia sudah membawa batik yang aku minta, aku diminta untuk pergi ke kosannya, yaitu Kosan H5 yang lokasinya tidak jauh dari Kampus Fakultas Teknik. Walau aku sedikit salah alamat (seperti lagunya Ayu Ting Ting), tapi beruntung aku tertolong dengan tempat pos di setiap pinggiran rumah yang tertulis dengan blok rumah yang ada disitu. Akhirnya, aku bisa bertemu dengan Teteh Nuri di kosannya.

Di dalam kosnya, ruang tamu kos cukup besar dan luas, layaknya seperti rumah besar dan elite.Sepertinya sangat lega bagi penghuni kos untuk bisa bersantai dan beristirahat dengan tenang. Setelah aku masuk kedalam kos dan berada di ruang tamu, aku disuguhi dengan cemilan kue dan air putih oleh Teteh Nuri. Sedikit basa basi dengannya dilanjut dia memberikan aku batik ungu oleh Teteh Nuri. Tak sabar mencoba, aku mencoba batik ungu itu. Ke kamar mandi kosan khusus tamu kosan, mengganti baju, dan wala. Ternyata batik baru yang aku beli ini ukurannya sesuai dengan tubuhku, yaitu ukuran L. Walau aku terbiasa dengan ukuran XL, namun ukuran L ini sudah sangat cukup denganku. Berikut ini foto diriku yang menggunakan batik berwarna ungu:



Bagaimana? Bagus kan? Ya aku suka dengan batik ini, ini juga batik bebas lengan pendek yang pertama kali aku pakai. Aku beristirahat sejenak sambil berbincang-bincang dengan Teteh Nuri dengan menggunakan batik baru yang aku kenakan itu. Pada pukul 11:30an dengan waktu menunjukkan waktu untuk melaksanakan sholat jumat. Aku berpamitan ke Teteh Nuri namun aku menggunakan pakaian yang semula dan pakaian batik warna ungu aku simpan agar bisa aku kenakan di hari mendatang. Aku membayar uang batik itu ke Teteh Nuri. Aku sangat berterima kasih kepadanya telah memberikan (lebih cocoknya membelikan) batik berwarna ungu dengan lengan pendek ini. Walau mahal, setidaknya bisa digunakan seperti biasanya pada waktu sehari-hari.

Rabu, 30 April 2014

Days 120 - Bootlooping

Hari rabu, 30 April 2014. Hari itu merupakan hari dimana aku mengalami masalah dengan HPku yang kedua kalinya. Yaitu Bootlooping. Bootlooping merupakan suatu masalah pada gadget berbasis android saat gadget tersebut dihidupkan dan muncul sebuah logo gadget tersebut namun tiba-tiba layar menjadi flash, mati dan kembali hidup dengan memunculkan logo gadget tersebut hingga tiba-tiba layar menjadi flash dan mati. Terus berulang tanpa henti. Tentunya Bootlooping ini menjadi masalah tersendiri bagi pengguna gadget berbasis android. Banyak orang yang belum tau bagaimana cara memperbaiki Bootlooping ini, bahkan cara pasrahnya yaitu membawa ke tukang service dengan biaya yang cukup mengejutkan.

Pertama kali aku mengalami bootlooping ini ketika aku di semester 2. Pada saat itu aku sedang telat berangkat ke kampus karena bisnya jarang nongol. Ditambah lagi HPku sempat jatuh karena aku naik ojek. Ya naik ojek karena pada saat itu, pertigaan jalan tugu kujang yang dekat dengan Botani Square ditutup diakibatkan karena adanya demo mengenai penggusuran terminal Baranang Siang. Alhasil HPku mati total, saat dinyalakan terjadi bootloop. Aku mencoba beberapa cara yang simple seperti membuka baterai lalu memasukkan kembali, mendiamkan beberapa saat, dan lain-lainnya tetap nihil. Aku pun sempat meminta bantuan ke teman-temanku juga hasilnya nihil. Pada sampai dirumah pun hasilnya sama. Akhirnya aku ditemani oleh kakakku untuk servis HP di rental servis HP di Plaza Jambu Dua. Dengan merogoh uang sebesar Rp. 300.000 dan menunggu hingga 3 jam, HPku bisa kembali dengan normal dengan syarat data-dataku hilang total termasuk kontak nomor yang ada didalamnya. Tentunya cukup mahal dan menunggu waktu yang lama untuk servis HP ini. Oh ya, HPku ini Sony Xperia U ST25i, keliatan masih jadul. Aku membeli HP itu saat aku lulus dari SMA dengan harga sekitar 3 juta rupiah di kios Sony Xperia di Botani Square (sekarang ini sudah tidak ada lagi).

Bootlooping yang kedua ini ketika aku di semester 4. Pada saat aku pulang dari kampus dan turun dari bis, aku merasa kelelahan dan ingin tidur. Dengan badan yang penuh keringat dan panas, akhirnya hingga sampai kerumah aku bergegas untuk melepaskan bajuku dan ingin segera tidur. Seperti kebiasaanku pada setiap harinya, sebelum tidur aku selalu mencek HP untuk membalas pesan dan browsing sosial media. Namun ketika aku memegang HPku itu, HPku terasa panas dan layar menjadi flash dengan sendirinya, memunculkan logo Sony Xperia kemudian flash dengan sendirinya, mati dan terus seperti itu. Aku kaget ketika HPku mengalami kejadian yang serupa setahun yang lalu, yaitu bootlooping. Kali ini, aku mencari cara sendiri agar aku bisa memperbaiki HPku dari masalah bootloop ini. Karena kalau aku servis ke rental servis HP, tentunya akan membuang waktuku cukup lama dan membuang uangku cukup banyak dan harapan untuk mengembalikan keadaan (baca: laptop) akan menjadi lama lagi.

Pertama, aku mencari tahu apa penyebab bootloop dan bagaimana cara memperbaikinya dengan spesifikasi HP tertentu. Karena HPku adalah Sony Xperia U ST25i maka aku mencari langkah-langkah memperbaiki bootloop dari tipe HP itu. Setelah aku membaca dari beberapa situs dan forum, baik yang berbahasa indonesia dan bahasa inggris. Aku menjadi tahu bagaimana untuk memperbaiki bootloop ini. Langkah-langkah memperbaiki bootloop ini setelah diambil kesimpulan dari beberapa sumber situs tertentu adalah sebagai berikut (khusus untuk Sony Xperia U ST25i):

1. Download Flashtool di situs: http://www.flashtool.net/download.php
2. Download Firmware di situs: http://fs1.d-h.st/download/00036/CvW/st25i_6.1.1.B.1.54_xperia%20u.ftf
3. Setelah didownload, install flashtool.
4. Pindahkan file firmware yang sudah didownload ke tempat folder firmware, yaitu di tempat dimana kamu menempatkan program flashtool terinstall. Entah di direktori C://, D://, Program Files, atau lainnya.
5. Pergi ke folder Flashtool, dilanjut ke folder Drivers, install driver disitu. Install driver dengan cara menceklis untuk Flash Mode, Fastboot Mode, dan  "Xperia P, Xperia U and Xperia Sola Drivers".
4. Jalankan program flashtool.exe atau flashtool64.exe
5. Tunggu sampai proses selesai.
6. Klik simbol/icon petir (flash)
7. Pada window mode selector, pilih Flashmode, lalu ok
8. Pada window firmware selector, dibagian Select a Firmware pilih ST25i (Firmware yang sudah didownload), kemudian pada bagian Wipe harus centang/ceklis semuanya, kemudian pada bagian Exclude centang/ceklis exclude baseband.. Kemudian klik ok.
9. Tunggu sampai ada perintah untuk plug-in kabel USB dari HP ke PC. (Keadaan HP dalam keadaan mati dan baterai terisi penuh tanpa kartu SIM)
10. Sebelum plug-in kabel USB dari HP ke PC, tahan terus tombol "Volume Down" sambil plug-in kabel USB dari HP ke PC hingga terdapat cahaya hijau di tombol back-nya. Setelah itu proses pada program log flashtool akan jalan dan lepaskan "Volume Down" hingga proses berakhir dengan log flashtool mengatakan bahwa proses selesai dan kabel USB dana dicabut.
11. Kemudian nyalakan (reboot) HPnya. Jika sukses, maka saat booting pada logo Sony,. berubah menjadi Xperia yang cahaya layar yang cerah, ditunggu sekitar 1-2 menitan akan berubah menjadi sedikit gelap dan terdapat cahaya pink di tengah (home) dan cahaya putih di samping kiri (back) dan kanan (option). Tunggu hingga 3-6 menitan hingga terdapat getaran yang menandakan bahwa booting telah sukses dan dapat masuk ke tampilan homescreen.
12. Selesai, tinggal restore file, SMS, contact, dan lain-lainnya untuk mengembalikan keadaan seperti semula apabila terdapat backup otomatis sebelum terjadi bootloop. Namun apabila tidak punya backup maka data yang ada di HP akan hilang semua.

Itulah langkah-langkah untuk memperbaiki bootloop dariku, maaf kalau tidak ada gambar karena ini diambil dari pengalaman yang terjadi di hari ini. Aku sendiri sempat dibantu oleh kakakku karena tidak bisa plug-in kabel USB dari HP ke PC sehingga di PC tidak berbunyi bahwa terjadi plug-in USB yang masuk ke PC. Ternyata aku lupa untuk meng-install Drivers Flashtool agar plug-in HP ke PC bisa ke baca walaupun HP sedang mengalami booting (tapi sayangnya kita tidak bisa membuka file yang ada di HP tersebut via PC). Akhiurnya dari situ mengikuti langkah selanjutnya yang aku lihat dari beberapa situs lainnya akhirnya membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Beruntung aku masih punya backup otomatis pada pagi hari sehingga data-data yang hilang tidak terlalu banyak. Download firmware saat itu membutuhkan waktu 5 jam karena koneksinya lelet dari situsnya walaupun koneksi di tempatku cepat.

Pada akhirnya aku sudah tau bagaimana cara yang paling mudah untuk memperbaiki HP pada saat mengalami bootloop tanpa harus pergi ke rental servis HP. Oh iya aku sempat lupa, beberapa hal yang menyebabkan HP menjadi bootloop saat aku baca dari beberapa sumber antara lain:

1. Terlalu sering mengotak-atik sistem sehingga membuat program menjadi tidak stabil, terjadi restart dan memulai bootloop. Baik mengganti font menjadi alay, indah, jelek, bagus dan segala macam maupun mengutak-atik jalannya proses HP.
2. Pada saat update aplikasi atau sistem tertentu, terkadang HP menjadi hang, lagging, freeze, atau berhenti tiba-tiba dan otomatis mati dengan sendirinya sehingga terjadi bootloop
3. Over RAM. Biasanya kebanyakan program yang jalan akan menyebabkan HP otomatis menjadi over RAM. Sehingga sering nge-lag dan mati dengan sendiri, sehingga terjadi bootloop. Banyak program yang didiamkan juga apalagi banyak program yang didownload akan mempercepat HP menjadi lagging dan berujung pada bootloop.
4. Overheat. Kalau HP sudah kepanasan, entah berada di suhu yang paling panas sekalipun, atau HP sering berada di kantong dengan udara yang panas maka terjadi bootloop. Terkadang panas juga disebabkan karena banyaknya program yang jalan sambil charging baterai HP atau menjalankan program pada saat hawa yang panas
5. Terlalu sering di-charge tanpa HP perlu dimatikan , biasanya ini sering terjadi karena biar bisa terus menyala hingga berminggu-minggu. Sehingga sistem sulit merefresh hingga tidak bisa mefresh dan menyebabkan looping.

Inilah postingan harianku hari ini, bagi kalian yang sedang mencari cara mengatasi atau memperbaiki Bootloop HP Sony Xperia U ST25i semoga postingan ini menjadi manfaat bagi kamu dan kita semua. Dan dengan postingan ini berharap bisa meminimalisir kejadian bootloop dan merawat HP dengan baik.

Jumat, 14 Maret 2014

Days 73 - Flat Moment

Hari ini tepatnya tanggal 14 Maret 2014. Merupakan hari yang menurutku tidak begitu istimewa. Tidak begitu berwarna semenjak hilangnya laptopku di Masjid Baranangsiang 3. Postinganku sebelumnya dibuat agar orang-orang di sekitarku tidak mengalami kejadian yang serupa denganku. Karena sangat disayangkan apabila barang yang berharga yang dibawa hilang dan berada ditangan orang lain untuk mencari keuntungan.

Pagi hari itu aku memulai hari-hariku dengan kuliah pengganti. Datang jam 07:30 namun dosennya baru datang pada jam 08:00. Belajar kalkulus lanjutan 2 dan riset operasi. Dalam kalkulus lanjutan 2 yang aku pelajari ini mempelajari tentang fungsi gamma dan riset operasi yang dipelajari hari ini adalah tentang linear programming. Buku yang disarankan pada mata kuliah riset operasi ini adalah buku Introduction to Operation Research karangan Hiller dan Liebermann. Tebal buku sangat tidak karuan. Katanya halaman buku tersebut lebih dari 1000 halaman. Harga 1 bukunya bila dibeli originalnya mencapai 1 jutaan. Kalau mencetak langsung dari internet kena 300 ribu. Karena aku ingin menghemat uang untuk membalikkan keadaan yang aku alami ini, aku hanya mencari PDFnya saja. Untungnya, edisi yang aku dapat di goole lebih bagus dibandingkan yang dimiliki oleh dosen itu. Yang ada di google merupakan edisi tujuh dan yang dimiliki dosen merupakan edisi keenam.

Hari ini aku resmi lengser dari jabatan kepengurusan kelas sebagai komti kelas. Digantikan dengan salah satu temanku, Agus Sugiarto. Dengan wakil komti adalah Sintya Dwi Rosady. Sekretaris dipegang oleh Rahayu Cipta Lestari. Bendahara 1 oleh Esti Oktaviani dan Bendahara 2 oleh Amirul Khoerul Mahmud. Sengaja tidak ada sekretaris 2 dikarenakan sudah cukup dengan tugas seorang sekretaris. Aku merasa bersyukur bisa keluar dari kepengurusan kelas, setidaknya tidak ada beban yang aku pegang selama ini.

Setelah itu, aku bergegas pulang ke rumah untuk melaksanakan sholat jumat. Dilanjut dengan menabung ke bank agar aku bisa membeli laptop kembali. Memang sangat diperlukan penghematan selama di semester 4 ini. Tapi perjuangan aku di semester ini penuh dengan pengoptimalan dalam segala hal.

Aku berharap semua keadaan bisa kembali seperti dulu dan lebih maksimal lagi. Bisa mendapatkan laptop baru dengan spesifikasi lebih bagus dari sebelumnya. Usahaku bisa lebih maksimal untuk mendapatkan apa yang diharapkan kedepannya.

Selasa, 03 September 2013

Days 246 - Wrong Address

Tanggal 3 September 2013. Hari itu aku dengan teman kelasanku yang bernama Mega Mustika Mukaramah ingin pergi ke Jakarta untuk servis kamera milik temanku ini. Semenjak pulang dari acara menginap bersama kelasanku pada tanggal 31 Agustus 2013 itu. Kamera yang biasa sering dia gunakan kemana-mana rusak pada lensa tutupnya. Jadinya saat mengambil foto, yang ada gambarnya menjadi hitam secara total.

Sebelum berangkat kesana, sehari sebelum berangkat. Mega mengirimkan SMS kepadaku. Percakapan SMSnya seperti ini:

Mega: " Wahyu mau nanya boleh?"
Aku: "Boleh, mau nanya apa mega?"
Mega: "Hem tau alamat ini ga JL. Pademangan II no. 1B? Itu jakarta mana ya? Terus kalau kesana naik apa? Maaf ngerepotin :( "
Aku: "Jalan Pademangan ya? Pernah denger pas naik busway. Itu ada di Jakarta Uatara. Deket jalan raya Gunung Sahari. Kalau naik busway aku lupa turun dimana deketnya. Tapi kalau naik kereta deket sama stasiun Rajawali."
Mega: "Oh jadi kalau dari bogor turun di jakarta kota atau dimana? Terus naik angkutan apa? Bingung. Maaf ya wahyu."
Aku: "Ada 2 cara: (1) Naik kereta api dari stasiun Bogor turun di stasiun Jakarta Kota naik Busway ke arah Tanjung Priok turun di Gunung Sahari. (2) Naik kereta api dari stasiun Bogor turun di stasiun Rajawali naik Angkot P12 terus jalan kaki. Disaranin naik bajai kalau mau cepet."
Mega: "Oh gitu kalau dari gunung sahari naik apa? Atau jalan? Maaf ya banyak tanya :( ga ngeti jakut."
Aku: "Dari situ lanjut bajai mega. Kalau angkot sebenarnya ada cuma gak tau angkot berapa buat ke jalan Pademangan 2nya. =.=a "
Mega: "Kata wahyu mendingan yang mana? Yg rada cepetan. Abis st rajawali itu baru tau :( "
Aku: "Kalau aku lebih cepet lewat stasiun Rajawali disambung bajaj, nanti nyampe deh disana."
Mega: "Oh gitu iya sih ya. Mega baru denger loh ada st. Rajawali -_- "
Aku: "Stasiun Rajawali tuh antara stasiun Kampung Bandan/stasiun Ancol sama stasiun Kemayoran. Jarang naik kereta ya mega?"
Mega: "Hahaha iya wahyu terakhir udah lama banget awal bulan tahun ini -_- mau beli tiketnya aja ga ngerti :( "
Aku: "Oh pantes, kalau pernah naik pas bulan sebelumnya sih gak apa-apa. Kalau buat beli tiketnya sebenarnya gampang kok mega. Cuma bayar sesuai jarak+jaminan, lalu tap in, tap out, dan dibawa deh sampai mega balik lagi ke Bogor naik kereta :) "
Mega: "Nanti kalau pake cara 2. Bilangnya turun di st. Rajawali?"
Aku: "Iya mega, turun di stasiun Rajawali"
Mega: "Emg ada yah langsung gitu? Maaf byk tanya. Tkt nyasar :( "
Aku: "Ada mega yang langsung kesana. Naik kereta api yang jurusan Jatinegara. MEmangnya mega sendirian kesanannya?"
Mega: "Oh gitu baru tau banget deh sumpah. Sama temen ga tau deh dia bisa atau engga soalnya ga tau daerah sana :( mau benerin kamera wahyu :( "
Aku: "Kalau temen mega tau sebenarnya gak apa-apa. Kalau baru pertama kesana harus banyak nanya orang sekitar. Tapi kenapa servis kameranya harus disitu?" :o
Mega: "Iya wahyu kan itu baru banget jd haransi tea. Cuman ga tau deh bisa garansi atau engga. Soalnya kalau kata org toko tmpt mega beli mending ke sana langsung soalnya kalau sama toko biasanya sampe 2 bulan nunggu. Mega ga mau lama bgt wahyu -_- "
Aku: "Lah kok begitu? Harusnya sih garansinya masih bisa dipakai di toko kamera yang mega beli itu. Tapi kayanya itu mega masih ada garansi pabrik. Kalau garansi toko udah expired. Jadi terpaksa ke sana. Mau gak mau turun dari stasiun Rajawali naik bajai."
Mega: "Oh ya? Ga tau deh. Tp kata dia bisa aja cuman jangka nya lama bgt di proses. Mending dtg langsung gitu. Iya wahyu. Aduh ga ngerti. Temen mega juga ga ngerti :( "
Aku: "Kalau garansi pabrik harus ke alamat yang dikasih itu mega. Cuma itu doang, ya berharap bisa diproses segera. Kalau lama gak nyampe berbulan-bulan. Kalau aku sih mau aja nganterin mega kesana. Aku tau namanya, kesanannya belum tau. Pernah denger/liat pas naik busway."
Mega: "Wahyu seriusan mau anterin mega?"
Aku: "Aku serius mau nganterin mega. Itu pun kalau mega mau. Soalnya aku lagi jenuh di rumah. Pengen main keluar."
Mega: "Ahhhh boleh banget wahyu boleh bangetttttt! (y) makasih banyak malah :D tapi mega ga ngerti tau dari st.bogornya juga takut salah naik -_- "
Aku: "Iya mega sama-sama. Oke deh kalau gitu. :) kalau mau janjian, di stasiun Bogor jam 8an mega. Aku rasa lebih enak naik busway turun di Pademangan deh. Bukan di Gunung Sahari. Kayanya deket halte Pademangan."
Mega: "Oh gitu iya mega mah ga tau jadi ngikutin aja. Oke jam 8an di st.bogor yaaa :) makasih banyak lohhhh :D "
Aku: "Oke deh gak apa-apa. Sekalian jalan-jalan bair tau tempat untuk kesanannya ;) besok jam 8 pagi ua mega di stasiun Bogor :) aku tunggu di stasiun Bogor arah Laladon/Bubulak ya."

Jadi dari percakapan lewat SMS ini, si Mega ingin servis kamera miliknya dengan kartu garansi yang dia miliki. Namun kartu garansinya gak bisa diterima di toko yang dia beli dan harus ke tempat toko yang tercantum dalam alamat garansinya itu. Jadinya saat itu aku ingin mengantarkan dirinya untuk pergi ke toko itu karena daerah Jalan Pademangan berada di Jakarta Utara di sekitaran daerah pemukiman warga yang rada kumuh bagiku, jika dilihat di google map Jalan Pademangan 2 terletak dekat dengan stasiun Rajawali dan dekat dengan halte Pademangan walau aku gak tau kesanannya dilanjut dengan apa. Dilihat dari situasi dan kondisi di sekitaran Jalan Pademangan memang terbilang rawan apalagi kalau kesanannya seorang diri apalagi perempuan jika gak ada yang mewakili perjalanan kesana. Sehingga aku ingin mencoba kesana dengan menggunakan Busway.

Keesokan harinya, aku mulai mengantar Mega dari stasiun Bogor. Walau aku telat datang karena macet di jalan, tapi Mega sabar menungguku dekat stasiun. Setelah tiba di stasiun Bogor, aku dan Mega menuju loket untuk membeli kartu perjalanan. Aku tidak perlu membeli kartu perjalanan karena aku sudah memiliki multitrip sehingga aku hanya memandu Mega cara membeli kartu perjalanan yang biasa disebut dengan THB (Tiket Harian Berjamin) dan cara-cara menggunakannya. Setelah itu, aku dan Mega berada di peron stasiun dan mencari kereta yang cepat untuk diberangkatkan terlebih dahulu. Di stasiun Bogor mulanya ada 2 kereta, pertama kereta jurusan Bogor di jalur 3 dan yang kedua kereta jurusan Jatinegara di jalur 4 yang saat itu sedang tiba dengan waktu yang begitu telat. Tujuan aku dan Mega sebenarnya ingin pergi ke Jakarta untuk lanjut naik Busway, namun karena jalur 3 harus menunggu kereta yang jalur 4 berangkat terlebih dahulu maka aku dan Mega berpindah kereta yang ada di jalur 4 karena kereta tersebut mulai diberangkatkan lagi karena mengalami keterlambatan waktu yang hampir parah.

Ketika dalam perjalanan, aku dan Mega berbicara dan mengobrol. Adapun Mega menunjukkan letak rumahnya yang terletak di daerah Kebon Pedes. Rumahnya tidak jauh dari perlintasan rel kereta api. Sekitar PJL yang terdapat banyak penjualan tanaman hias. Selain itu, aku dan Mega membicarakan soal masalah yang pernah dibahas mengenai teman kelasan saat acara kelasan bersama di api unggun. Memang masalah temanku yang satu ini begitu rumit, menganggap uang kas yang fungsinya untuk kebersamaan tapi malah dianggap haram. Bagaimana tidak, hal itu sangat dikecamkan dan disesali oleh teman-temanku ketika dia mengeluarkan pernyataan kekesalannya di Facebook dengan membawakan nama Al-quran dan Agama. Perbuatan yang dia lakukan pun sangat tidak terpuji, menganggap dirinya benar padahal yang dia lakukan saja sudah sangat fatal bagi orang sekitar. Orang dianggap gak kenal dosa tapi dirinya sendiri juga sama saja gak kenal dosa. Itulah sebabnya, kejadian itu sudah menjadi topik terhangat kelasanku mengenai tingkah teman kelasanku yang tidak menyenangkan itu. Karena sudah geram, akhirnya hal tersebut akan dibahas bersama saat bertemu di kealsan nanti. Selain pembahasan mengenai teman kelasan yang tidak menyenangkan itu, aku dan Mega membahas hal lainnya hingga out of topic dari pembahasan yang ada selama perjalanan.

Ketika sampai di stasiun Kampung Bandan, aku dan Mega melanjutkan kereta api menuju stasiun Jakarta Kota yang terdapat di jalur 3. Di dalam kereta, Mega menunjukkan kamera yang rusak itu berserta kartu garansinya. Di dalam kartu garansi dari depan nya itu tertera PD. Asia Digital dengan alamat Jl. Pademangan 2 No. 1B. Di tengah kartu garansi tertera identitas kamera yang ada berserta tulisan, identitas, dan syarat mengenai kartu garansinya itu. Di belakang juga tertera tulisan yang sama dengan kartu di depannya namun terdapat nomor telepon yang terhapus. Entah ada apa kartu garansi ini menghapuskan nomor teleponnya itu.

Kartu garansi dilihat dari depan

Kartu garansi dilihat dari tengah 

Kartu garansi dilihat dari belakang, nomor yang dibawahnya terhapus a.k.a ditutupi oleh spidol

Ketika tiba di Stasiun Jakarta, aku memandu Mega untuk mengajarkan bagaimana caranya Tap Out di stasiun itu dengan menggunakan kartu THB. Setelah itu, Mega ingin menarikkan uang di mesin ATM, entah berada yang dia ambil itu. Walaupun sempat ada kejadian kucing masuk ke ruangan mesin ATMnya itu. Sulit diusir, sekalinya diusir malah masuk lagi ke ruangan mesin ATMnya itu. Kemudian aku dan Mega belanja makanan dan minuman di salah satu mini market di stasiun Jakarta Kota. Setelah itu aku dan Mega mulai melanjutkan perjalanan menuju halte Busway Stasiun Kota. Selama perjalanan Mega ingin membeli kerak telor, awalnya aku sering ngeliat yang jualan kerak telor di sekitar jalan menuju halte Busway, namun sayangnya yang jualan tidak terlihat di hari itu.

Tiba di halte Stasiun Kota, aku dan Mega berencana untuk turun di halte Pademangan setelah transit di halte Gunung Sahari untuk melanjutkan ke halte Pademangan. Tadinya memang aku kira jalan Pademangan itu dekat dengan halte Gunung Sahari, saat merubah pikiran untuk turun ke halte Pademangan ternyata halte Pademangan itu hanya sebuah mall jalanan bernama Pademangan. Saat bertanya ke orang sekitar yang dimaksud dengan jalan Pademangan itu dekat dengan halte Gunung Sahari. Ya akhirnya kita berjalan kesana sedikit. Karena Pademangan berada di pedalaman kota, aku dan Mega bertanya-tanya cara ke jalan Pademangan 2 harus naik angkot apa. Ada orang yang menjawab naik angkot 39 (Jakarta Kota-Pademangan), ada juga yang bilang harus naik angkot U10 (Sunter-Pademangan). Walau kebanyakan orang pada jawab harus naik angkot 39, maka aku dan temanku melanjutkan untuk naik angkot 39 untuk ke Jalan Pademangan 2 itu. Masuk ke jalan Hidup Baru dengan lingkungan yang begitu kumuh, jalan yang lagi diperbaiki, dan akhirnya kami diturunkan di Jalan Pademangan 4 memang tujuan angkot terakhir berada di jalan itu. Dan ya, selama perjalanan di angkot saat memasuki wilayah Pademangan itu ternyata kita pada awalnya masuk di Pademangan 5 dengan gang yang tertera setiap jalannya. Kami mencoba menanyakan alamat yang tertera di kartu garansi kepada orang sekitar. Kami ditawarkan untuk naik becak saja agar bisa cepat ke tempat yang dituju.

Tukang becak yang kami tumpangi kelihatan cukup tua, ya walaupun begitu sepertinya dia bekerja untuk menafkahi keluarganya setiap hari. Dia melihat alamat pada kartu garansi. Dia mengatakan bahwa patokan alamat ini berada pada gang di setiap Jalan Pademangan 2nya itu. Karena alamat yang tertera pada alamat itu tidak tercantum nomor gangnya. Akhirnya kita coba memutar setiap ruas jalan dan juga gang pada Jalan Pademangan 2. Gang yang ada di Jalan Pademangan 2 terdapat 22 gang. Kami sudah mencoba menanyakan alamat dan juga nama toko PD Asia Digital ternyata tidak membuahkan hasil, sudah memutar hingga 3 kali tidak ketemu-temu. Yang kesalnya lagi, ada orang yang mencoba ingin menghubungi nomor si pemilik toko itu namun nomornya terhapus di kartu garansinya itu. Tukang becak pun kelelahan, aku dan Mega tidak tega melihat tukang becak ini kecapean ketika berjalan memutar belok, sampai dimarahin mobil atau motor yang lewat. Memang terlihat keras di Jakarta orang-orang sekitar. Bahkan saja, sempat gerimis saat memutar sambil menanyakan orang sekitar. Walau ada yang tau tapi mereka sempat lupa lokasinya dimana. Ditambah lagi banyak gang yang membuat kita bingung. Nama Jalan Pademangan yang begitu banyak hingga 8, gang yang lebih dari 22, bahkan nomor rumah pun sekitar 50an. Memang luas daerah Pademangan, Jakarta Utara ini. Akhirnya orang yang membantu kami di sekitar jalanan dan juga tukang becak pun menyerah dan angkat tangan, bingung harus bagaimana. Pada akhirnya tukang becak pun mengantarkan kami menuju stasiun Rajawali yang dekat dengan daerah Pademangan 2 itu, letaknya juga tak terlalu jauh. Selama perjalanan menuju stasiun Rajawali juga, tukang becak ini terlihat lemas, bahkan dibuat marah oleh orang sekitar karena mengganggu jalan. Saat sampai di gang stasiun menuju stasiun Rajawali. Kelihatan lesu dan lemas, kami menanyakan harga biaya becaknya berapa. Orang ini hanya bilang seikhlasnya saja. Melihat kondisi dia yang seperti itu dan sudah menolong kami mutar-mutar mencarikan alamat sampai 3 kali keliling ditambah lagi halang rintang yang begitu banyak. Kami memberikan dia uang lebih kepadanya, Mega memberikan 50 ribu dan aku memberikan 30 ribu kepadanya. Semoga uang yang kami berikan kepada tukang becak itu menjadi berkah dan bermanfaat bagi keluarganya.

Kita masuk ke Gang Stasiun setelah meninggalkan tukang becak itu. Saat keluar dari Gang Stasiun, kita berada di Stasiun Rajawali di peron jalur kereta antara menuju Ancol dan menuju Kemayoran. Kami mencari jalan menuju pintu masuk utama stasiun Rajawali. Walau kita sempat mondar-mandir mencari jalan karena celah jalan yang begitu kecil, akhirnya kita berhasil menemukan pintu masuk utama Stasiun Rajawali. Aku mengantarkan Mega untuk membeli kartu tujuan untuk kembali ke Bogor. Rencanannya, aku dan Mega pergi ke Bogor ke toko dimana Mega membeli kamera tersebut untuk meminta penjelasan alamat palsu yang diberikan di kartu garansi itu.

Setelah tiba di stasiun Bogor, aku dan Mega melanjutkan naik angkot 07 dengan warna angkot hijau perak tujuan Merdeka-Warung Jambu. Sesampainya di Warung Jambu, aku dan Mega segera ke toko kamera yang dimaksud si Mega itu. Setelah sampai disana, Mega langsung mengatakan mengenai alamat itu bahwa kami tidak menemukan letak alamat itu karena alamat itu tidak lengkap. Namun penjaga tokonya saja hanya ketawa-ketiwi sambil asyik memainkan HP miliknya, terlihat seperti mereka mempermainkan dan gak niat melayani pelanggan. Ya akhirnya aku hanya memasang muka kesal kepada mereka agar mereka sadar betapa susah dan capeknya mencari alamat yang dituju namun tidak dapat sama sekali. Walaupun begitu, mereka masih tetep melayani kita dengan menawarkan untuk mengirimkan barang ke alamat yang dituju dengan memberikan kartu garansinya itu. Mega berharap kamera itu bisa kembali lagi dengan keadaan utuh dan sempurna. Akhirnya kita tidak membayar kepada mereka karena berhubung yang diberikan adalah kartu garansi. Jadinya apabila kamera sudah diperbaiki dan dikirim balik maka akan di konfirmasikan segera. Syukurlah, mereka serius mau menanggapi permintaan kami tapi ingin kami lihat saja kesanannya bagaimana. Karena dari kartu garansi yang ada terlihat bahwa ada pemalsuan garansi karena nomor kontak untuk garansi dihapus dari sanannya. Kita berharap semoga kamera yang dimiliki Mega bisa kembali dengan keadaan utuh dan sempurna. Karena kamera yang dimiliki oleh Mega sangat penting bagi aktvitas dirinya sebagai fotografi.

Selasa, 26 Februari 2013

Days 57 - Trip With KA Lokal Rangkasbitung & KA Kalimaya

Hari Selasa yang merupakan waktu aku kuliah, aku gunakan untuk pergi joyride ke Merak. Aku sengaja membolos karena belum saatnya pengambilan FRS saat itu. Sehingga aku ingin berlibur sedikit ke Merak dan ingin mencoba bagaimana pemandangan dan sensasi menaiki KA Kalimaya ini.

Pagi-pagi, aku niatnya pergi kuliah. Namun niat itu aku balikkan hingga aku ingin mencoba joyride ke Merak dengan KA Kalimaya. Ya selama ini aku tidak pernah kesampean untuk mencoba menaiki KA ini berhubung lagi dalam masa promo dan grafik perjalanan kereta api (GAPEKA) nya belum berubah. Kali ini aku mencoba menaiki kereta api ini. Ketika aku naik bis, aku ingin turun di dekat kandang roda dengan dilanjutkan naik ojek, karena aku yakin jika naik angkot pasti gak keburu, karena waktu keberangkatan ke Merak dengan KA Kalimaya pukul 09:35 namun kereta Commuter Line yang tiba di stasiun Bojonggede untuk bisa transit menaiki kereta ini hanya ada pada pukul 08:05 mentoknya.

Ketika aku sampai di stasiun Bojonggede, aku segera membeli karcis untuk tujuan Tanah Abang. Dengan segera aku naik di peron 3 Bojonggede. Aku tiba saat itu pada pukul 07:35. Kereta yang pertama tiba adalah Commuter Line tujuan Jakarta Kota, kemudian dilanjutkan dengan Ekonomi tujuan Tanah Abang-Jatinegara. Saat kereta api ekonomi itu tiba, dalam hatiku mulai memberikan aba-aba akan hal ini kalau aku segera menaiki kereta ini. Namun benakku berkata lain kalau kereta api ekonomi ini cukup rawan akan kriminalitasnya. Kereta ini berangkat pada pukul 07:45. Ternyata gak disangka, setelah kereta api itu berangkat, kereta api ekonomi yang memiliki tujuan sama selanjutnya mengalami pembatalan karena rangkaiannya rusak. Ditambah lagi kereta api Commuter Line untuk tujuan Tanah Abang-Jatinegara belum tersedia di Stasiun Bogor, melainkan baru berjalan dari Stasiun Depok menuju Stasiun Bogor padahal waktu sudah menunjukkan pukul 08:02, sepertinya kereta ini mengalami telat yang cukup parah. Sepertinya dugaanku ternyata hatiku berkata benar dan pikiranku berkata salah. Namun aku berusaha untuk mencari alternatif lainnya agar aku bisa naik kereta ke Tanah Abang dengan cepat setelah aku turun dari stasiun Manggarai dengan program android Sikremut. Ironisnya, ternyata sekitar jam 8 dan 9 tidak ada kereta yang berangkat dari Manggarai menuju Tanah Abang karena kereta yang ada hanyalah berasal dari Bogor, itupun kereta yang datangnya cukup parah. Well.. memang bodohnya aku mengikuti pikiranku yang selalu negatif dibandingkan hatiku yang selalu mengatakan hal positif. Walau tadi aku takut kereta ekonomi yang tiba itu penuh sesak dan akan munculnya kriminalitas yang tidak diinginkan, ditambah lagi pembatalan kereta ekonomi yang memiliki tujuan yang sama. Akhirnya aku memutuskan untuk naik kereta Commuter Line ke arah Jakarta Kota dengan transit di Manggarai.

Kereta yang aku naiki ini memang penuh sesak, bahkan gak bisa bergerak sama sekali. Ujung-ujungnya, dengan mengamankan tasku sendiri, dompet, berserta gadget yang aku bawa. Aku bisa tertidur pulas didalam kereta. Memang keunikan kereta padat bisa tiduran posisi berdiri ketika kereta penuh sesak, sehingga kita seperti ditahan dan bisa tidur dengan nyaman. Tak lama setelah aku menaiki kereta Commuter Line ini, aku tiba di stasiun Manggarai dengan menunggu kereta api ke arah Tanah Abang. Sayangnya, ternyata yang aku tunggu tak kunjung datang dan masih di posisi Pondok Cina, benar-benar bisa dikatakan lebih parah telatnya. Bahkan saja, ternyata yang menunggu di peron diantara jalu 5 dan jalur 6 ini merupakan orang yang mau ke Jatinegara. Jumlahnya cukup banyak, entah apakah mereka bisa muat atau tidak jika dari arah Bogor pun penuh. Sekitar pukul 09:30, 5 menit KA Kalimaya berangkat, kereta Commuter Line dari arah Bogor menuju Tanah Abang-Jatinegara tiba. Dan ya, orang-orang di peron yang aku tempat ini mulai berkumpul layaknya seperti mengantri beras bulog, cukup banyak, dan beruntungnya di kereta api itu dalamnya tidak sepadat yang aku naiki ini. Ketika naik, padatnya memang sama seperti yang aku naiki sebelumnya. Tak lama setelah itu kereta mulai diberangkatkan kembali. Tiba di Stasiun Sudirman, banyak penumpang yang turun, sehingga sedikit longgar untuk bisa bergerak. Tiba di Stasiun Karet, banyak penumpang yang turun pula. Dan akhirnya tiba di Stasiun Tanah Abang, banyak penumpang yang turun dan terisi dengan penumpang untuk menuju ke arah Duri, Kampung Bandan, hingga Jatinegara.

Setibanya di stasiun itu, gak disangka, ternyata KA Kalimaya sudah berangkat duluan, aku tiba di stasiun itu hanya telat 15, alias aku tiba pada pukul 09:55. Akhirnya aku bingung harus apa untuk pergi ke Merak. Pada akhirnya, aku hanya mondar-mandir melihat jadwal KA Lokal Rangkasbitung, KA Rangkas Jaya, KA Patas Merak, KA Banten Ekspress, dan jadwal KRL lainnya. Namun aku enggak mengambil jadwal itu karena bulan April tahun 2013 nanti semua jadwal kereta api berubah total. Sehingga bisa aku ambil dan disusun saat bulan April nanti. Namun, karena aku belum pernah naik KA Lokal Rangkasbitung sendirian, aku ingin mencoba naik kereta api itu. Siapa tau suasananya sama seperti KA Lokal Purwakarta. Aku membeli karcis KA Lokal Rangkasbitung di loket, melihat jadwal keberangkatan dari Tanahabang pukul 10:10 dan tiba di Rangkasbitung pukul 12:35. Aku ingin melihat dan menduga saat ini, apakah kereta api lokal barat ini ngaret ataukah tidak. Aku membeli karcis itu namun sayangnya yang aku beli adalah KA Lokal Rangkasbitung yang keberangkatan dari Tanahabang pukul 09:35 tiba di Rangkasbitung pukul 11:35. Hampir sertara dengan KA Lokal Purwakarta yang selalu aku naiki namun jadwal keberangkatannya hanya beda sejam. Selain itu, sebelum KA Lokal Rangkasbitung ini, ada KRL Commuter Line berangkat dari Tanahabang pukul 10:00 ke Parungpanjang, sehingga kereta api ini dulu yang diberangkatkan, setelah itu disurul dengan kereta ini.



Aku pergi ke peron untuk menunggu kereta lokal yang menjadi idaman warga rangkas ini. Setelah KRL Commuter Line ke arah Parungpanjang berangkat, KA Lokal Rangkasbitung dari kandang (dipo) Tanahabang mulai diberangkatkan menuju Tanahabang dan tiba di jalur 6. Cuaca hujan dan akupun segera naik kereta itu dan mencari duduk agar bisa melihat pemandangan dan rel pada setiap berjalan. Aku duduk bersama pasangan suami istri didepan, disampingku tidak ada siapa-siapa. Aku hanya membayangkan didepan kalau disampingku pasti si emnyu yang menemaniku, kalau dilihat-lihat mirip sekali, ditambah lagi romantis. Ya, sebelum aku cerita mengenai perjalananku ini memang pasangan mereka berdua ini terlihat romantis. Andaikan aku bisa bersama dengan si Emnyu setiap aku pergi, mungkin bisa seperti mereka. Mereka turun di Stasiun Tenjo sehingga didepanku untuk stasiun seterusnya hingga Rangkasbitung tidak bersama dengan mereka lagi. Well.. di gerbong yang aku naiki mayoritas orang yang berbahasa sunda. Hal itu disebabkan karena aktivitas mereka cukup ramah tamah disertai dengan percakapan mereka dengan bahasa sunda, namun jangan salah, terkadang bahasa sunda mereka nyaris gak ada yang halus, biasanya kebanyakan antara bahasa sunda kasar hingga sedang, termasuk orang yang ada didepanku ini memang bisa bahasa sunda. Entah bagaimana aku dengan emnyu, campur aduk atau apa, kemungkinan besar pasti berbahasa sunda dan jawa tentunya.

Jam 10:10, KA Lokal Rangkasbitung yang aku naiki ini berangkat. On time sesuai dengan jadwal yang ada. Kereta api ini berjalan dengan kecepatan normal. Berikut ini adalah laporan waktu dariku mengenai perjalanan menaiki KA Lokal Rangkasbitung ini dari stasiun keberangkatan hingga stasiun akhir.

Nama stasiun Jadwal tiba Jadwal berangkat
Tanah Abang 10:10 10:10
Palmerah 10:18 10:19
Kebayoran 10:25 10:26
Pondok Ranji 10:36 10:36
Jurangmangu 10:39 LS
Sudimara 10:42 10:43
Rawa Buntu 10:49 10:50
Serpong 10:52 10:55
Cisauk 10:59 11:00
Cicayur 11:04 11:05
Parungpanjang 11:12 11:20
Cileujit 11:30 11:32
Daru 11:35 11:36
Tenjo 11:41 11:50
Tigaraksa 11:54 11:55
Cikoya 11:59 12:00
Maja 12:03 12:07
Citeras 12:16 12:22
Rangkasbitung 12:35 12:35

Keberangkatan awal dari Tanah Abang On Time dan sampai di Rangkasbitung pun juga On Time. Jarang-jarang aku naik kereta yang jadwalnya on time dari stasiun keberangkatan hingga tiba di stasiun akhir. Selama perjalanan berhenti di setiap stasiun kecuali stasiun Jurangmangu yang hanya dikhususkan untuk KRL saja. Di stasiun Cisauk, yang dulunya tidak memiliki atap untuk tempat berteduh ketika hujan, ternyata sekarang ini sudah ada, sehingga penumpang tidak kehujanan maupun kepanasan saat menunggu di peron. Di stasiun Cicayur, saat berhenti berpas-pasan dengan KA Banten Ekspress dan di stasiun Parungpanjang bertemu dengan KRL Commuter Line yang sebelumnya aku lihat di stasiun Tanah Abang. Sekedar info, sebenarnya KRL sudah bisa dilalui hingga Maja walau bersesuaian dengan jadwal kalau KRL hanya sampai Serpong dan Parungpanjang. Nantinya menurut info yang aku dengan kalau bulan Maret mulai dioperasikan KRL Tanahabang-Maja, walau masih Single Track karena dari Parungpanjang hingga Maja sedang dibuat Double Track dan akan selesai sekitar akhir tahun 2013 ini. Stasiun Maja akan menjadi stasiun terminus sekaligus terbesar selain Parungpanjang, dan Tigaraksa. Di sekitar tahun 2014 nanti akan dibuat jalur untuk KRL hingga Rangkasbitung, sehingga ada kemungkinan besar nantinya KA Lokal Rangkasbitung dialihkan ke KA Lokal Merak.

Di stasiun Tenjo, kedua pasangan suami istri yang ada didepanku turun. KA Lokal Rangkasbitung yang aku naiki ini menunggu KA Lokal Rangkasbitung dari arah Rangkasbitung sehubung jalurnya masih single track. Stasiun Tenjo yang berada di kecamatan Tenjo dan kabupaten Bogor ini memiliki keunikan yang sama persis dengan Stasiun Lemah Abang (Stasiun yang berada pada relasi Jakarta-Cikampek), karena Peron dengan Pintu Lalu Lintas sangat berdekatan sehingga ketika kereta api berhenti di stasiun itu, maka pintu lalu lintas kereta tidak bisa dibuka hingga kereta itu berangkat dari stasiun itu. Karena menunggu kereta ini bersilangan dengan KA Lokal Rangkasbitung dari arah Rangkasbitung, sekitar 9 menit kereta itu tiba di stasiun Tenjo dan kereta yang aku naiki mulai berangkat. Di stasiun Maja, kereta yang aku naiki ini terpaksa menunggu datangnya kereta barang yang berasal dari relasi Rangkasbitung-Merak, namun setelah kereta itu tiba di Stasiun Maja, kereta lokalan ini langsung diberangkatkan.

Selepas stasiun Serpong hingga Rangkasbitung, pemandangan mulai berubah menjadi pemandangan persawahan, hutan, dan juga sedikit perbukitan dan lembah. Ditambah lagi suasana kampung dan juga kerbau ditambah kambing yang sedang senangnya memakan rumput. Pemandangan persawahan ala kampung yang cukup menarik selama perjalanan menuju Rangkasbitung, tak lupa saat di stasiun Maja dan perlintasan antara Cicayur dan Parungpanjang, kita bisa melihat danau yang begitu bersih dan indah. Kau tau, selama perjalananku ke Rangkasbitung dengan KA Lokal ini, aku sempat menemukan beberapa aktivitas orang didalam kereta, baik penumpang, pedagang, pengamen, pengemis, dan lainnya. Walau kereta yang aku naiki ini sebenarnya gak sepadat dari yang biasanya, namun terkadang aktivitas di kereta ini justru lebih ramai dibandingkan KA Lokal Purwakarta pada umumnya. Dan sedikit yang membuatku gak enak, terkadang ada pengemis yang memaksakan agar aku harus mengasihkan duit kepadanya, kalau tidak maka aku sendiri diancam olehnya, seperti kejadian waktu itu saat aku iseng naik kereta lokalan ini dari Jakarta ke Tanahabang kalau aku sempat ditodong oleh anak kecil. Beruntungnya, aku ada pisau saat aku beli untuk orang tuaku, sehingga anak kecil itu kabur dan gak mau diancam. Memang, kalau mau berpergian dengan kereta ini, disarankan selalu membawa recehan, karena terkadang kalau kita gak ngasih, anak itu bisa jadi ngancam ke kita. Itu cara selamatnya. Kalau kamu berani, mungkin kamu bisa lawan atau segera teriak di gerbong itu atau laporkan ke petugas yang sedang jaga disitu. Satu lagi, saat tiba di stasiun Maja menunggu kereta api barang lewat. Ada seseorang yang mempromosikan produk jualannya ke penumpang satu gerbong itu dengan menggunakan bahasa sunda, ya bahasa sundanya ini bisa dibilang bahasa sunda menengah, maklum kalau disini keterbalikannya. Biasanya di Bandung memang rendahnya bahasa sunda menengah dan tingginya bahasa sunda halus. Sementara di daerah yang aku kunjungi ini bahasa sunda kasar dan tingginya bahasa sunda menegah. Ya.. baru kali ini aku mendengar pedagang mempromosikan dagangannya dengan menggunakan bahasa sunda. Aku segera membuka kamus bahasa sunda di HPku tapi sayangnya, pas aku mau translate, situsnya tidak bisa dibuka karena error. Aku pun sedikit gugup kalau aku harus berbahasa sunda ketika pedagang itu menanyakan aku dengan bahasa sunda. Dengan pura-puranya, aku sedang mencatat laporan perjalananku dan beruntungnya dia hanya bilang kalau artinya itu permisi dan mohon maaf. Aku bisa bernapas lega ketika dia sudah pindah gerbong.

Ketika tiba di stasiun Rangkasbitung, aku langsung turun sambil keliling halaman stasiun ini, halaman stasiun tersebut hampir serupa dengan Stasiun Bogor pada saat tahun mendekati 2000an, hanya saja stasiun ini tidak memiliki LAA. Saat aku keluar dari stasiun itu, aku tak lupa memfoto halaman stasiun itu, stasiun ini dekat dengan rumah unit kesehatan perkeretapian dimana rumah tersebut diperuntukan untuk warga sekitar, pas aku tiba di stasiun itu memang tak begitu ramai walau ramai dengan anak sekolah baru pulang dari sekolah. Adapun saat di loket stasiun Rangkasbitung di bagian tiket reservasi dan tiket KA jarak jauh, ada 3 anak SMK jurusan Administrasi Perkantoran yang sedang menjalankan magang atau PKL, 2 cewek dan 1 cowok sedang bertugas untuk melayani penumpang yang ingin membeli tiket. 1 cowok sedang mengoperasikan komputer untuk reservasi tiket, 1 cewek sedang menstamplekan tanggal karcis untuk KA Banten Eskpress, dan 1 ceweknya lagi sedang tertidur pulas. Saat aku melihat logo nama sekolahnya, ternyata berasal dari SMKN 2 Rangkasbitung. Saat aku coba mengetes mereka kalau aku ingin membeli tiket KA Kalimaya untuk pulang ke Tanah Abang, ternyata mereka melayani dengan murah senyum dan ramah, terutama aku salut dengan si cowoknya itu. Dengan pertanyaan yang dia ajukan ke aku untuk membeli tiket yang aku inginkan, ternyata dengan cepat tiket itu sudah bisa aku dapatkan darinya, yaitu tiket KA Kalimaya dengan keberangkatan Rangkasbitung pukul 14:23 dan tiba di Tanah Abang pukul 15:52. Tak lupa stampel pemeriksaan sesuai identitas dari cewek yang sibuk dengan tanggal stample karcis KA Banten Ekspress. Ya bisa dibilang mereka kerja dengan cukup baik, walau sedikit kekurangan bahwa identitas di tiket yang aku dapatkan ini lupa untuk ditagihkan KTPku, sehingga saat di tiket namaku kurang lengkap, tapi ya aku harap nantinya pas di pemeriksaan tidak diperiksa kejanggalannya itu.








Saat itu, aku ingin istirahat sebentar di halaman stasiun, namun karena di luar cukup panas dan banyak siswa, baik itu SMP, SMA, maupun SMK sedang pulang, akhirnya aku memutusukan untuk masuk ke peron stasiun ini. Selama di peron, aku hanya jalan-jalan dari ujung peron ke ujung peron yang satunya lagi. Selama yang aku lihat memang serupa dengan stasiun Bogor tahun 2000an, namun yang aku lihat lagi beberapa hal yang baru adalah aku menemukan jadwal lengkap pemberhentian untuk KA Kalimaya berserta harganya. Kemudian ruang kepala stasiun, monitoring, PDB, dan aku lupa lagi ruang yang aku temukan disitu termasuk toilet berserta musholla, di peron sebelah timur terdapat dipo yang terlihat tidak terpakai namun terdapat gerbong penumpang didalamnya. Entah sepertinya gerbong tersebut tidak dipakai lagi atau untuk tambahan suatu hari nanti. Tapi didepan stasiun Rangkasbitung terdapat 3 gerbong, kalau tidak salah di jalur 6, dimana 2 gerbong itu adalah gerbong penumpang seperti aling-aling dan 1 gerbong merupakan gerbong bordes atau gerbong untuk penyimpanan barang. Dibawah gerbong tersebut terdapat banyak pedangang makanan dan minuman yang sedang menunggu kereta lokalan datang agar bisa berjualan. Namun karena kereta lokal yang aku naiki ini belum berangkat sehingga mereka berjualan dulu, bahkan ada pengamen dan pengemis yang memulai aksi mereka. Aku hanya duduk di peron satu dekat pintu keluar dan masuk kereta api.
















KA Lokal Rangkasbitung ini hanya melayani 8 kali perjalanan. Tidak sebanyak KA Lokal Purwakarta yang hanya melayani 5 kali perjalanan walau di Purwakarta lebih diperbanyak jadwal paginya dibandingkan jadwal sore yang melayani hanya jam 1 siang dan jam 5 sore. Sementara di Rangkasbitung ini hanya 1 jadwal malam yang dilayani, itupun hanya sampai stasiun Parungpanjang, sehingga jadwal terakhir sebelum malam hari adalah pada jam 3 sore. Sangat diberuntungkan kalau saat ini pada jadwal terakhir KA Lokal Rangkasbitung dari Rangkasbitung bisa disambung dengan KRL Commuterline ke Tanahabang sehingga dilanjutkan ke arah Bekasi, Depok maupun Bogor. Tak terkecuali Tangerang karena KRL terakhir kesana pada pukul 9 malam. KA Lokal Rangkasbitung paling pagi adalah dari jam 4 pagi. Namun, bukan berarti Rangkasbitung merupakan stasiun terminus untuk rute KA Lokal Rangkasbitung ini. Namun, bisa dilanjutkan ke Stasiun Serang hingga Stasiun Merak. Jadi ada sekitar 3 kereta khusus ke Stasiun Merak pada pagi hari dan sore hari, begitupun sebaliknya. Sehingga ada 6 peluang untuk pergi ke rute Rangkasbitung-Merak dan sebaliknya.
































Kita kembali ke aktivitasku menunggu di stasiun Rangkasbitung ini. Pada mulanya KA Lokal Rangkasbitung yang aku naiki ini seharusnya berangkat pada pukul 13:05, namun baru bisa diberangkatkan pada pukul 13:30 dikarenakan adanya KA Batu Bara Rangkaian Pendek (KA Babarandek) yang harus ditunggu agar posisi kereta bisa sinkron sehingga mudah di management walau alhasil banyak kereta yang mengalami ketelatan. Kereta itu masuk ke jalur 1 dari arah Merak, aku kira masuk di jalur 3, kenyataannya jalur 1. Setelah kereta itu berangkat, aku hanya menunggu gak jelas sambil mendapatkan SMS kalau nilai PKn semester 1 sudah keluar. Sayangnya, aku tidak bisa ngecek karena aku sedang berada di stasiun ini. Mungkin aku bisa mengecek di hari esok, ditambah lagi, aku takut jika nilai PKn aku rada hancur. Apalagi dapat C nantinya.






 


















Well... kembali ke point apa yang terjadi. Selama aku menunggu, ibu-ibu disampingku sedang menghibur anaknya agar tetap senyum dan bahagia. Anak itu masih unyu, lucu, dan umurnya pun masih 7 bulan, anak itu berjenis kelamin laki-laki. Ya, rasanya aku senang dan bahagia melihat kesenangan si anak itu disenangi dan dibahagiain oleh ibunya, ternyata memang ada bapak-bapak yang ikut menghibur si anak itu, aku kira suaminya, ternyata orang lain yang ingin mengobrol dengan ibu itu, ditambah lagi kepala stasiun pun, entah aku lupa siapa namanya, ikut nimbrung buat membahagiakan si anaknya itu. Betapa senangnya, ternyata bisa dibilang orang di Rangkasbitung ini tergolong ramah-ramah. Pembicaraannya saja pun melekat walau tidak pakai bahasa sunda. Maklum karena si Ibu itu berasal dari Kalimantan dan merantau di daerah jawa hingga sumatera. Sehingga tak heran kalau kehidupannya ini dia hapal berbagai daerah dan kerjaan yang dia tekuni di berbagai daerah dan juga pastinya saking dia merantau bahasa yang dia gunakan sehari-harinya bahasa indonesia. Aku tidak ikut nimbrung omongan mereka, melainkan aku hanya menjadi pendengar yang baik untuk mereka. Walau sempat aku lihat ada pegawai cleaning service menyubit pipi anak itu dan anak itu merasa senang. Betapa tidak, sepertinya anak itu senang melihat orang disekitarnya kalau ada orang yang sedang lewat. Mungkin kalau kita merespek anak itu dengan baik maka anak itu mendapatkan stimulan yang baik kepada orang di sekitarnya sehingga si anak itu sudah merasakan kebahagiaan hidupnya saat kecil bersama orang disekitar dan terlindungi. Ya dari situ aku mendapatkan sedikit mengetahui psikologi anak, begitupun mendengarkan curhatan orang di sekitar situ mengenai masa lalu terutama di stasiun Rangkasbitung ini. Dahulunya memang ada Burung Hantu seukuran besar yang hanya ada di daerah Rangkasbitung, Lebak ini. Cuma karena seiring waktu dan pembangunan lahan, burung hantu tersebut sudah tiada. Memang saat ini banyak warga yang menginginkan kereta api terusan ke Merak, cuma karena keterbatasan kereta akhirnya banyak yang beralih ke transportasi seperti bis dan mobil selain kereta. Karena di jadwal pagi hingga malam pun masih banyak yang menginginkan ke Merak terutama untuk hijrah ke pulau Sumatera. Namun, kita hanya berharap sekitar tahun 2016 baru bisa terealisasi untuk frekuensi KA Lokal Merak bisa menjadi sering.













Tak lama setelah itu, KA Lokal Rangkasbitung yang ke-enam pun datang sebelum KA Lokal Rangkasbitung yang terakhir. Tiba pukul 13:48, penuh dengan penumpang yang turun dan diisi dengan banyak anak SMP, SMA, SMK yang baru pulang saat itu ditambah penumpang lainnya. Jadwal keberangkatan yang seharusnya pukul 14:05 dari Rangkasbitung harus ditunda karena menunggu kedatangan KA Kalimaya pada pukul 14:23. Ya memang tak lama lagi kereta itu akan tiba di jalur satu. Setelah kereta api itu tiba, yang naik kereta itu rupanya memang sedikit, dan kenyataannya sepi penumpang, tiap gerbong hanya terisi 2 hingga 8 penumpang saja. Betapa tidak, gerbong yang rapih nan sejuk yang dilengkapi dengan AC memang sepi penumpang, terdapat gorden layaknya kereta kelas bisnis. Tak lama setelah itu, kereta yang aku naiki ini mulai berangkat. Perjalanan kereta api ini sangat cepat dan maksimal penuh, tapi herannya memang di lintas Rangkasbitung ini kecepatan keretanya tidak sekencang pada rute cepatnya Purwakarta dan Bogor. Hal itu disebabkan karena jenis relnya masih menggunakan rel zaman tahun 2000an dimana kecepatan kereta itu hanya dibatas 50 km/jam. Kalau yang baru saat ini antara 80 hingga 150 km/jam. Namun ketika selepas stasiun Parungpanjang kecepatan sedikit meningkat hingga pada saat selepas stasiun Serpong kecepatan menjadi 80 km/jam. KA Kalimaya ini hanya berhenti di Tigaraksa langsung ngebut ke Stasiun Tanahabang. Memang cukup seru dan cepat untuk perjalanan kali ini walau sepi penumpang. Ditambah lagi pegawai pelayan makanan yang selalu mondar-mandir memberikan tawaran untuk makan di kereta. Kalau di kereta api ekonomi/bisnis biasanya yang menawarkan itu laki-laki, namun kalau kereta api eksekutif yang menawarkannya itu perempuan. Tapi jangan salah, dua-duanya ini memiliki daya tarik yang wow untuk pelayannya ini sehingga pernah ada cerita yang dimuat di rubrik majalah mengenai kehidupan mereka itu. Walau dalam pikiranku aku lagi gak mau makan, tapi sayangnya di hatiku ternyata emang ingin makan. Memang serba salah kalau aku ikuti kata pikiranku, selalu hal buruk yang terjadi. Saking nyaman dan sepinya naik kereta ini, aku bisa tidur lelap hingga sampai di Tanahabang hanya telat 1 menit saja dari jadwal.











Ya inilah ceritaku mengenai perjalanan dengan KA Lokal Rangkasbitung dan KA Kalimaya, walau tergolong biasa. Bagiku memang suram setiap berangkat dan pulangnya, karena pas pulang ternyata KRL Commuter Line ke Bogor maupun Depok mengalami telat yang cukup parah. Hingga peron 1 di Stasiun Tanahabang sudah seperti lautan manusia, ketika kereta itu datang, sudah menjadi bahan rebut tempat duduk penumpang hingga penuh, ditambah lagi ketika stasiun Karet dan stasiun Sudirman mengangkut penumpang yang lebih banyak lagi. Ya akhirnya aku hanya bisa duduk biasa sambil lihat pemandangan dan aku turun di Stasiun Depok Baru dan menunggu Commuter Line Bogor untuk turun di Bojonggede.